budaya dieng

Wisata Budaya

budaya dieng

Wisata Budaya Dieng senada dengan wisata alamnya, unik, berkarakter dan masih lestari sampai saat ini. Wisata Budaya Dieng akan membawa para wisatawan sedikit mengetahui tentang seluk beluk anak-anak yang memiliki rambut menempel satu dengan rambut lainnya tanpa perekat kimia dan hadir secara alami. Sebuah kepercayaan, kebudayaan menjadi kekuatan masyarakat Dieng yang masih diyakini hingga saat ini di tengah-tengah zaman modernisasi. Kepercayaan ini telah diyakini secara turun temurun dari nenek moyang Dieng pada ribuan tahun silam yang masih mereka junjung tinggi hingga mengadakan upacara-upacara adat untuk memperingatinya.

Budaya Dieng yang sangat terkenal saat ini dan sering dibicarakan oleh wisatawan ialah tentang anak-anak berambut gimbal. Orang-orang Dieng bukanlah suku atau komunitas tertentu, penduduk Dieng ialah penduduk biasa yang tinggal di daerah pegunungan Dieng. Berpipi merah, kesehariannya bertani serta sebagian kecil anak-anak mereka memiliki rambut gimbal. Bukan karena mereka jarang mandi, tetapi kisah sacral yang hanyut ke dalam kehidupan anak-anak yang tinggal di Dataran Tinggi Dieng.

Hanya anak-anak terpilih saja yang akan dikarunia rambut gimbal. Konon anak rambut gimbal dipercaya oleh penduduk setempat sebagai titisan dari seorang kyai yaitu Kyai Kolodete, Seorang Kyai atau pemimpin yang menguasai Dieng kala itu. Dan saat ini beliau menitis anak-anak Dieng pada saat ini. Anak-anak gimbal ini tumbuh tidak dari lahir melainkan rambut tersebut tumbuh sekitar umur 2 tahun. Diawali panas dahsyat tidak sembuh-sembuh dalam waktu 2 minggu kemudian rambut-rambut halus mereka saling merekat. Tidak boleh dipotong, tidak boleh disisir atau dipisahkan tanpa adanya upacara adat. Anak-anak gimbal ini harus dibersihkan atau di potong rambut gimbalnya pada kurun waktu tertentu dengan upacara ruwatan. Upacara ruwatan rambut gimbal masih lestari dan sering diadakan para penduduk local Dieng untuk membersihkan anak-anak mereka dari rambut gimbal dengan kepercayaan membuang sial kehidupan. Anak-anak rambut gimbal menjadi anak-anak yang diistimewakan karena dipercaya sebagai titisan sang Kyai Kolodete. Akan tetapi untuk membuang sial mereka rambut tersebut harus dicukur dan dikembalikan ketika anak tersebut diminta.

Budaya Dieng tidak hanya tentang kesakralan anak-anak rambul gimbal saja. Ada banyak kesenian dan tradisi yang masih lestari sebagai tiang budaya masyarakat Dieng. Masyarakat Dieng masih kental dengan budaya Jawa jadi kesenianannya pun juga menyatu dengan tanah Jawa. Ada tarian wayang, tarian lengger, tarian rampak yakso mewarnai kehidupan sehari-hari orang Dieng. Berbagai kesenian ini biasanya dipertunjukkan ketika sedang ada hajatan pribadi atau hajatan Desa yang diadakan rutin setiap tahun di moment-moment tertentu contohnya acara perkawinan, sunatan, selamatan desa ataupun berbagai acara yang diselenggarakan oleh pemerintah baik dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo karena Dieng itu sendiri terbagi menjadi 2 wilayah Kabupaten.

Wisata Budaya Dieng


  • Ruwat Rambut Gimbal
  • Tari Lengger
  • Tari Rampak Yakso